sebuah puisi dari kakak @hurufkecil ku persembahkan untuk si penulis.
a difference engine contemplates an ontological certainty
kau sedang berulang tahun. cuma jendela di dada dan kepalamu
bersedia bersedih. waktu dan hal-hal lain yang erat dipeluknya
sedang memikirkan hidup mereka sendiri.
seseorang mengirim kue tart untuk kau pandangi sepanjang
hari sampai basi. tetapi matamu tungku.
setiap yang disentuhnya akan hidup dan memperbaharui diri
terus-menerus.
tidak ada cahaya yang mampu mengubah kau
jadi bayang-bayang di dinding
atau dipikiran miring
siapapun.
kau berulang tahun. aku angka, menghitung usiamu dari
kejauhan.
::: maap ketika hanya puisi ini yang bisa ku berikan di hari pertambahan usia muu, mungkin tak berharga tapi semoga bermakna :::
Senin, 21 Mei 2012
Rabu, 09 Mei 2012
aku dan aku yang lain
di sudut ruang kecil itu
seorang gadis duduk terdiam dan menundukkan kepala
dari kejauhan
tidak tahu apa yang dilakukan
membuat rasa penasaran datang dan menghampiri
selangkah demi selangkah menuju tempat gadis itu berada
dan ku bertanya kepadanya
"ada apa?" tanyaku
dia hanya diam
tak menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang terucap oleh mulutku
diam dan hanya diam
diam, diam dan diam saja.
bagaimana diri ini bisa tenang
melihatmu tak mau berucap sepatah kata pun padaku
ayo lah...
berbagi sedikit dengan ku
berbagi apa yang kau pendam dalam hatimu sekarang
hingga tak ada kata keluar dari mulutmu
untukku
lama ku tunggu kata itu keluar
dan akhirnya kau pun berucap
"saya takut", katamu
takut kehilangan semuanya,
takut kehilangan semuanya,
takut kehilangan semuanya.
takut kehilangan semua yang ku miliki
takut kehilangan semua yang ingin ku miliki
takut kehilangan semua yang tidak ku miliki
kau berbalik ke arahku
segera memeluk tubuhku
meneteskan air mata
membuatku ingin menangis juga
tenanglah...
kenapa kau harus takut kehilangan?
jangan takut
jangan takut
dan jangan takut
semua ini hanya milik tuhan
jadi untuk apa kita harus takut
semua akan baik-baik saja
teruslah berpikir
semua akan baik-baik saja
: : : 'aku dan aku yang lain' - sedikit tentang diriku di sisi lain : : :
Rabu, 02 Mei 2012
Triologi Penulis dalam Dunia Tanpa Sekolah
Dalam sebuah buku yang pernah saya baca, saya menemukan deretan kata yang membuat saya termotivasi dan tertarik untuk lebih belajar menulis. Kata-kata itu adalah "Read, Write and Imagine". Sebuah triologi yang dimiliki seorang penulis (katanya).
Sekilas tentang Triologi itu,
Read - Membaca
Read - Membaca
Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa.
membaca adalah kegiatan fisik dan mental, yang menuntut seseorang untuk
menginterpretasikan simbol-simbol tulisan dengan aktif dan kritis
sebagai pola komunikasi dengan diri sendiri agar pembaca dapat menemukan
makna tulisan dan memperoleh informasi sebagai proses transmisi
pemikiran untuk mengembangkan intelektualitas dan pembelajaran sepenjang
hayat (life-long learning).
Write - Menulis
Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara.Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil.
Imagine - Mengkhayal
Menghkayal adalah menggambarkan (melukiskan) dalam angan-angan, mengangan-angankan.
Penulis : M. Izza Ahsin
Judul Buku : Dunia Tanpa Sekolah
Penerbit : Mizan
Tahun penerbitan : 2007
Jumlah halaman : 248
Dalam buku yang berjudul "Dunia Tanpa Sekolah" ini, seorang anak berumur 16 tahun (pada waktu itu) yang bernama Izza dengan mantap mengundurkan diri dari sebuah sistem yang dianggapnya sangat membatasi dirinya, yaitu sekolah (sebuah lembaga pendidikan formal). Menurut Izza, sekolah formal hanya bisa menjadi penghambat dan pemasung kreativitas juga penjajah kemerdekaannya. Kemantapannya dengan keputusan yang ia ambil membuatnya tidak takut menghadapi anggapan negatif dari orang lain.
Izza ingin hidup dengan mengandalkan kemampuan dan tujuan hidupnya, yaitu menulis. Baginya, Hidup itu Read (membaca), write (menulis) dan Imagine (Mengkhayal), karena dapat memberinya peluang untuk belajar apa saja yang akan bermuara pada cita-cita kemanusiaan.
Begitu banyak rintangan yang dia alami, seperti menentang kedua orang tuanya. Banyak perdebatan hebat yang dia lalui, baik perdebatan dengan orang tuanya, maupun perdebatan dengan dirinya sendiri. Namun, pada akhirnya kebebasan untuk memilih tujuan hidup (cita-cita) yang menang.
Beberapa kutipan yang saya temukan setelah membaca buku "Dunia Tanpa Sekolah", yaitu:
1. Karena pada hakikatnya, setiap orang punya bakat, latar belakang dan pilihannya sendiri.
2. Paling tidak Aku punya mimpi, dan siapa pun yang berani bermimpi, berarti dia berani mewujudkannya.
3. Pondasi dari istana keberhasilan adalah mimpi itu sendiri.
4. Sementara orang-orang tertawa dan berceloteh, aku malah hidup di bangunan imajinasi yang mulai tersusun bata demi bata.
5. Orang yang hidup dalam keterpaksaan adalah orang yang paling menderita di dunia.
6. Kegagalan berarti keberhasilan yang tertunda, yang terpenting adalah seberapa besar usaha dan dedikasinya.
7. Pendidikan adalah sesuatu yang tidak terlupakan di kepala sampai kapan pun, serta memberi kesan mendalam kepada yang menimbanya.
8. Mengidentifikasi diri dalam sebuah kisah adalah suatu keberhasilan tersendiri. Aku telah memiliki pilihan hidup dan tanggung jawab tersendiri tanpa paksa.
9. Aku adalah diriku sendiri dan sama sekali bukan orang.
10. Guru bukan sebagai seseorang yang berdiri di ruang kelas karena kesannya memaksa. Guru adalah tokoh-tokoh bangsa maupun dunia yang perlu diteladani tingkah lakunya.
11. Tua itu Pasti, dewasa itu pilihan. Usia dan waktu tidak bisa diubah, yang bisa diubah hanya perilaku. Waktu tidak bisa dikontrol dan dikendalikan, perubahanlah yang bisa dilakukan.
Waaahhh... banyak yaaahh.... hahahahaaa //(n_n)//
Tapi inti dari buku ini, bahwa belajar itu tidak terbatas karena di manapun kita berada (formal atau non-formal), dengan apa dan siapa pun kita bisa peroleh pengetahuan. Untuk itu, jangan batasi diri untuk mengetahui segala sesuatu.
Untuk menjadi seorang penulis, tidak membutuhkan bakat yang ada sejak lahir, tapii bakat itu sendiri akan muncul dan berkembang berdasarkan lingkungan yang ada disekitar kita. karena lingkungan adalah faktor eksternal yang sangat berpengaruh.
Namun, yang paling penting adalah niat dan kemauan...
Belajar, belajar, belajar dan terus belajar...
Menulis, menulis, menulis dan terus menulis apa saja... #CEMUNGUD!!!
Untuk menjadi seorang penulis, tidak membutuhkan bakat yang ada sejak lahir, tapii bakat itu sendiri akan muncul dan berkembang berdasarkan lingkungan yang ada disekitar kita. karena lingkungan adalah faktor eksternal yang sangat berpengaruh.
Namun, yang paling penting adalah niat dan kemauan...
Belajar, belajar, belajar dan terus belajar...
Menulis, menulis, menulis dan terus menulis apa saja... #CEMUNGUD!!!
:: Ku selipkan kata "Penulis" di kalimat ini karena darinya semangat dan motivasi untuk menulis itu ada ::
Langganan:
Komentar (Atom)
Ayusti Dirga. Diberdayakan oleh Blogger.



