Rabu, 02 Mei 2012

Triologi Penulis dalam Dunia Tanpa Sekolah

Dalam sebuah buku yang pernah saya baca, saya menemukan deretan kata yang membuat saya termotivasi dan tertarik untuk lebih belajar menulis. Kata-kata itu adalah "Read, Write and Imagine". Sebuah triologi yang dimiliki seorang penulis (katanya).

Sekilas tentang Triologi itu,
Read - Membaca
Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa.
membaca adalah kegiatan fisik dan mental, yang menuntut seseorang untuk menginterpretasikan simbol-simbol tulisan dengan aktif dan kritis sebagai pola komunikasi dengan diri sendiri agar pembaca dapat menemukan makna tulisan dan  memperoleh informasi sebagai proses transmisi pemikiran untuk mengembangkan intelektualitas dan pembelajaran sepenjang hayat (life-long learning).

Write - Menulis
Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara.Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil.

Imagine - Mengkhayal
Menghkayal adalah menggambarkan (melukiskan) dalam angan-angan, mengangan-angankan.




Penulis : M. Izza Ahsin
Judul Buku : Dunia Tanpa Sekolah
Penerbit : Mizan
Tahun penerbitan : 2007
Jumlah halaman : 248




Dalam buku yang berjudul "Dunia Tanpa Sekolah" ini, seorang anak berumur 16 tahun (pada waktu itu)  yang bernama Izza dengan mantap mengundurkan diri dari sebuah sistem yang dianggapnya sangat membatasi dirinya, yaitu sekolah (sebuah lembaga pendidikan formal). Menurut Izza, sekolah formal hanya bisa menjadi penghambat dan pemasung kreativitas juga penjajah kemerdekaannya. Kemantapannya dengan keputusan yang ia ambil membuatnya tidak takut menghadapi anggapan negatif dari orang lain.

Izza ingin hidup dengan mengandalkan kemampuan dan tujuan hidupnya, yaitu menulis. Baginya, Hidup itu Read (membaca), write (menulis) dan Imagine (Mengkhayal), karena dapat memberinya peluang untuk belajar apa saja yang akan bermuara pada cita-cita kemanusiaan.

Begitu banyak rintangan yang dia alami, seperti menentang kedua orang tuanya. Banyak perdebatan hebat  yang dia lalui, baik perdebatan dengan orang tuanya, maupun perdebatan dengan dirinya sendiri. Namun, pada akhirnya kebebasan untuk memilih tujuan hidup (cita-cita) yang menang.

Beberapa kutipan yang saya temukan setelah membaca buku "Dunia Tanpa Sekolah", yaitu:
1. Karena pada hakikatnya, setiap orang punya bakat, latar belakang dan pilihannya sendiri.
2. Paling tidak Aku punya mimpi, dan siapa pun yang berani bermimpi, berarti dia berani mewujudkannya.
3. Pondasi dari istana keberhasilan adalah mimpi itu sendiri.
4. Sementara orang-orang tertawa dan berceloteh, aku malah hidup di bangunan imajinasi yang mulai tersusun bata demi bata.
5. Orang yang hidup dalam keterpaksaan adalah orang yang paling menderita di dunia.
6. Kegagalan berarti keberhasilan yang tertunda, yang terpenting adalah seberapa besar usaha dan dedikasinya.
7. Pendidikan adalah sesuatu yang tidak terlupakan di kepala sampai kapan pun, serta memberi kesan mendalam kepada yang menimbanya.
8. Mengidentifikasi diri dalam sebuah kisah adalah suatu keberhasilan tersendiri. Aku telah memiliki pilihan hidup dan tanggung jawab tersendiri tanpa paksa.
9. Aku adalah diriku sendiri dan sama sekali bukan orang.
10. Guru bukan sebagai seseorang yang berdiri di ruang kelas karena kesannya memaksa. Guru adalah tokoh-tokoh bangsa maupun dunia yang perlu diteladani tingkah lakunya.
11. Tua itu Pasti, dewasa itu pilihan. Usia dan waktu tidak bisa diubah, yang bisa diubah hanya perilaku. Waktu tidak bisa dikontrol dan dikendalikan, perubahanlah yang bisa dilakukan.

Waaahhh... banyak yaaahh.... hahahahaaa //(n_n)//
Tapi inti dari buku ini, bahwa belajar itu tidak terbatas karena di manapun kita berada (formal atau non-formal), dengan apa dan siapa pun kita bisa peroleh pengetahuan. Untuk itu, jangan batasi diri untuk mengetahui segala sesuatu.

Untuk menjadi seorang penulis, tidak membutuhkan bakat yang ada sejak lahir, tapii bakat itu sendiri akan muncul dan berkembang berdasarkan lingkungan yang ada disekitar kita. karena lingkungan adalah faktor eksternal yang sangat berpengaruh.
Namun, yang paling penting adalah niat dan kemauan...

Belajar, belajar, belajar dan terus belajar...

Menulis, menulis, menulis dan terus menulis apa saja... #CEMUNGUD!!!

:: Ku selipkan kata "Penulis" di kalimat ini karena darinya semangat dan motivasi untuk menulis itu ada ::

0 comments:

Posting Komentar

Ayusti Dirga. Diberdayakan oleh Blogger.