Jumat, 30 Januari 2015

Luapan Rindu di Akhir Januari



Salam hangat untuk akhir Januari,

Siang ini, cuaca Makassar cukup panas, benar kan? Ataukah perasaanku saja yang panas? Akhir-akhir ini, Kota Daeng diguyur hujan, kadang deras, kadang hanya rintik-rintik. Bagaimana kabarmu hari ini? Masih sehatkan? Kau dan aku harus sehat, agar kita dapat menikmati hari terakhir Januari kali ini bersama-sama.
Tahukah kau, kalau hari ini saya akan mencoba datang ke tempatmu? Saya dan seorang teman karib saya akan ke sana dan memberimu sedikit kejutan. Kejutan kecil di akhir Januari. Pasti kau bertanya-tanya, kenapa saya bisa ke sana? Saya yakin, kalau kau sdh tau jawabannya. Yah! karena ada kata yang sering kita dan semua orang bilang 'rindu' atau 'kangen' atau 'uddani' dalam bahasa bugis.
Dalam waktu tak kurang dari 1/4 hari lagi, saya akan ada di depanmu jika Tuhan meridhoi pertemuan kita. Kau merasa senang kan? Yah! Kau dan aku memang harus senang. Karena kita akan bersama menikmati hari terakhir Januari tahun ini.
Persiapan saya untuk bertemu denganmu cukup sederhana. Hanya menyiapkan 1 pasang pakaian dan alat perlengkapan mandi untuk menginap di dekat tempat tinggalmu. Apakah di sana aman? Apakah ada yang sering mengganggumu? Atau lebih parahnya, apakah ada yang ingin merayumu di sana? Semoga saja tidak ada. Karena sebagai seorang perempuan yang baik, menjaga perasaan sesama perempuan sangat penting. Beberapa cemilan akan ku bawa sebagai buah tangan untukmu. Sekaleng susu beruang dan beberapa bungkus snack dan roti. Buah tangan yang sangat sederhana juga kan? Sesederhana perempuan dengan kesederhanaannya mendampingimu selama beberapa tahun ini.
Sebelum mengunjungimu, saya menyempatkan diri untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda selama dua hari karena sakit. Pekerjaan yang baru ku mulai lagi setelah setahun vakum dari pekerjaan itu. Pekerjaan yang membutuhkan energi yang sangat banyak, karena pekerjaan ini menggunakan pikiran dan kerja keras otak. Terlepas dari itu, saya sangat menyukai pekerjaan ini, karena pekerjaan ini membuat saya sadar akan pentingnya kesabaran dan saya belajar apa yang orang lain pelajari.
Masihkah kau semangat untuk memberikan semangat kepadaku? Masihkah kau sabar untuk mencoba memberiku semangat? Saya tunggu kau di depan tempat tinggalmu esok hari, ketika saya sampai di sana, saya harap kau menyambutku dengan sambutan yang bisa menyemangatiku sehingga kita bisa menghabiskan penghujung Januari ini bersama-sama. Karena saya rindu.

Tertanda,

Perempuan pemendam rindu di akhir Januari

Hai, Sang Pemilik Hati!



Selamat Pagi, Sang Pemilik Hati!

Hai, bagaimana kabarmu di sana? Sudah berapa hari kita tidak bertemu? Maaf, saya lupa untuk menghitung harinya, dan saya memang tidak ingin menghitungnya. Terakhir kita bertemu saat saya mampir sebentar ke tempatmu untuk membawakanmu sesuatu yang kau minta sebelumnya. Tempat yang kau jadikan sebagai rumah kedua bagimu, rumah yang selalu menjadi tempatmu kembali.

Pagi itu, wajahmu tampak lelah. Wajar saja kau lelah, begadang untuk suatu pekerjaan yang telah lama kau ikuti dan menyita sedikit kebebasanmu, kan? Tapi, kau tidak menunjukkannya di depanku. Kita memang sama, suka menyembunyikan rasa khawatir masing-masing. Saya tidak ingin menambah rasa itu dengan rasa yang sama. Kita memang pintar dalam menjaga rasa seperti itu, kan?

Apakah saya berbuat sesuatu yang salah? Ataukah tidak terbersit dipikiranmu untuk memikirkanku sedetik pun? Setiap hari sejak kau berangkat ke kota sebelah, telpon atau deretan kata dalam sms pun tak ada. Saat ku hubungi nomor teleponmu, hanya suara perempuan yang terdengar, “nomor yang Anda tuju sedang sibuk atau berada di luar jangkauan”. Saya memang bodoh, berharap berlebih untuk mendengar suaramu. Saya bodoh karena saya tahu kalau di sana jaringan operator yang kita gunakan memang susah untuk didapat. Tapi, apakah saya salah karena hanya ingin mendengar suaramu? Salahkah kalau saya ingin menceritakan hari-hariku saat kau tak di kota ini?

Saya menulis surat ini karena saya ingin kau tahu apa yang saya lakukan beberapa hari ini. Beberapa hari ini terasa tak seperti hari biasanya. Ada yang kurang, Raga dan kabarmu. Kau tahu kalau dua hari saya hanya tinggal di rumah saja? Tahukah kau kalau saya sakit? Yah, dua hari ini saya tidak ke mana-mana, saya hanya tinggal di rumah karena saya sakit. Tapi jangan khawatir, dua hari itu saya habiskan bersantai dan menonton Drama Korea saja, sedikit menghabiskan waktuku untuk memikirkan atau mengkhawatirkanmu.

Surat ini adalah surat pertamaku di proyek menulis #30HariMenulisSuratCinta bersama teman-temanku. Saya belum cerita yah? Maaf tak memberitahumu terlebih dahulu. Proyek menulis ini saya terima dari teman karena saya ingin mencoba untuk belajar menulis, dan melatih konsistensi dalam menulis selama 30 hari. Alasan saya yang lain karena saya iri padamu. Saya juga ingin menulis sepertimu, menggambarkan apa yang saya alami dan saya lihat di sekitarku dalam tulisan. Jadi, doakan saya yah!





Tertanda,

Perempuan Sederhanamu

Rabu, 28 Januari 2015

Dia, Abu-Abu?



Sebut saja dia Abu-abu, yang tak begitu bersinar namun tak menusuk mata bila dipandang dan nyaman untuk diperhatikan. Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa bisa begitu? Sama seperti kalian, pertanyaan itu pernah singgah dan menetap sampai sekarang. Jawaban-jawaban yang klise tapi masih tak memuaskan hati. Jawaban yang saya cari dan temukan serta memahami dengan sendiri.

Seperti pada umumnya, dia memiliki sifat baik, suka menolong, dan tentunya perhatian. Selain itu, malas adalah sifat yang sering mengikuti seperti hantu dan membuat semua orang akan tampak tak seperti biasa. Segala keterbatasan yang dimiliki selalu membuat dia merendahkan dirinya. Namun, tahukah kalian kalau ada Jingga yang akan selalu menerima segala kelebihan dan kekurangannya?

Jingga tidak datang hanya saat dibutuhkan atau kemauannya sendiri,  tapi dia selalu ada setiap saat.

 -Jingga-
Ayusti Dirga. Diberdayakan oleh Blogger.