Jumat, 01 Juni 2012

SAYA dan IBU (Akhir Mei dan Proyek Sederhana untuk Kamu)



Foto ini diambil oleh kakak saya pas setelah shalat idul Fitri bersama keluarga besar, sekitar setahun yang lalu ketika merayakan hari lebaran. Waktu itu saya pulang kampung cuma beberapa hari saja. Saat itu, saya kakak dan ibu menyempatkan diri untuk foto bersama. Jujur, saya jarang berfoto bersama ibu.

Selama ini (semenjak kuliah di makassar), saya merasa tidak begitu dekat dengan mammi (panggilan ibu buat ku). Mungkin karena saya terlalu sibuk dengan urusan-urusan saya di kampus (organisasi dan Akademik). Setiap hari mami selalu menelpon, tapi bukan ke nomor anak keduanya ini, melainkan anak pertama.ny (kakakku). Terkadang saya berfikir, kenapa dia tidak pernah menghubungi saya? Apa karena dia tidak menyayangi saya.

Ahh... Tidak mungkin, mana ada seorang ibu yang tidak menyayangi buah hatinya.

Ku tepis pikiran itu, mngkin saja karena saya yang cuek, jarang menghubunginya, atau karena provider nomor ponsel kami berbeda. Yang selalu dia hubungi adalah kakak saya (provider ponselnya sama).

Biarlah...

Yang jelasnya dia selalu menanyakan kabar saya, apa saya sudah pulang atau belum (kata kakak saya) setiap malam.

Saya sangat merindukan saat-saat bersama beliau sebelum saya melanjutkan pendidikan di makassar. Setiap pagi dia bangun pagi-pagi memasak untuk keluarganya, membuat nasi goreng dan telur mata sapi buat saya. Beliau juga selalu membangunkan saya untuk shalat subuh.

Setiap pulang sekolah Waktu SMA, beliau selalu menjemput saya (kadang bergantian dengan bapak saya). Kami pulang bersama, kadang singgah membeli makan sblm plng, kadang di rumah kami menyiapkan makanan yg telah beliau buat sblm brangkat ke kantor setiap pagi.

Sekarang saya sangat sedih, ingin rasa.ny menangis mengingatnya karena merasa kehilangan masa.masa itu.

Ku panjatkan doa dan harapan.harapanku kepada sang pencipta untuk kesehatan dan kebahagiaan beliau, tak lupa juga untuk bapak kuu tercinta di setiap sujudku dan setiap dzikirk.

: : : Catatan kecil yang sudah lama ku simpan untuk ibu : : :


Senin, 21 Mei 2012

Puisi @hurufkecil untuk Si Penulis

sebuah puisi dari kakak @hurufkecil ku persembahkan untuk si penulis.



a difference engine contemplates an ontological certainty

kau sedang berulang tahun. cuma jendela di dada dan kepalamu
bersedia bersedih. waktu dan hal-hal lain yang erat dipeluknya
sedang memikirkan hidup mereka sendiri.

seseorang mengirim kue tart untuk kau pandangi sepanjang
hari sampai basi. tetapi matamu tungku.

setiap yang disentuhnya akan hidup dan memperbaharui diri
terus-menerus.

tidak ada cahaya yang mampu mengubah kau
jadi bayang-bayang di dinding
atau dipikiran miring
siapapun.

kau berulang tahun. aku angka, menghitung usiamu dari
kejauhan.

::: maap ketika hanya puisi ini yang bisa ku berikan di hari pertambahan usia muu, mungkin tak berharga tapi semoga bermakna :::

Rabu, 09 Mei 2012

aku dan aku yang lain


di sudut ruang kecil itu
seorang gadis duduk terdiam dan menundukkan kepala

dari kejauhan
tidak tahu apa yang dilakukan
membuat rasa penasaran datang dan menghampiri

selangkah demi selangkah menuju tempat gadis itu berada
dan ku bertanya kepadanya

"ada apa?" tanyaku
dia hanya diam
tak menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang terucap oleh mulutku

diam dan hanya diam
diam, diam dan diam saja.

bagaimana diri ini bisa tenang
melihatmu tak mau berucap sepatah kata pun padaku

ayo lah...
berbagi sedikit dengan ku
berbagi apa yang kau pendam dalam hatimu sekarang
hingga tak ada kata keluar dari mulutmu
untukku

lama ku tunggu kata itu keluar
dan akhirnya kau pun berucap

"saya takut", katamu
takut kehilangan semuanya,
takut kehilangan semuanya,
takut kehilangan semuanya.

takut kehilangan semua yang ku miliki
takut kehilangan semua yang ingin ku miliki
takut kehilangan semua yang tidak ku miliki

kau berbalik ke arahku
segera memeluk tubuhku
meneteskan air mata
membuatku ingin menangis juga

tenanglah...
kenapa kau harus takut kehilangan?
jangan takut
jangan takut
dan jangan takut

semua ini hanya milik tuhan
jadi untuk apa kita harus takut
semua akan baik-baik saja

teruslah berpikir
semua akan baik-baik saja

: : : 'aku dan aku yang lain' - sedikit tentang diriku di sisi lain : : :

Rabu, 02 Mei 2012

Triologi Penulis dalam Dunia Tanpa Sekolah

Dalam sebuah buku yang pernah saya baca, saya menemukan deretan kata yang membuat saya termotivasi dan tertarik untuk lebih belajar menulis. Kata-kata itu adalah "Read, Write and Imagine". Sebuah triologi yang dimiliki seorang penulis (katanya).

Sekilas tentang Triologi itu,
Read - Membaca
Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa.
membaca adalah kegiatan fisik dan mental, yang menuntut seseorang untuk menginterpretasikan simbol-simbol tulisan dengan aktif dan kritis sebagai pola komunikasi dengan diri sendiri agar pembaca dapat menemukan makna tulisan dan  memperoleh informasi sebagai proses transmisi pemikiran untuk mengembangkan intelektualitas dan pembelajaran sepenjang hayat (life-long learning).

Write - Menulis
Menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara.Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil.

Imagine - Mengkhayal
Menghkayal adalah menggambarkan (melukiskan) dalam angan-angan, mengangan-angankan.




Penulis : M. Izza Ahsin
Judul Buku : Dunia Tanpa Sekolah
Penerbit : Mizan
Tahun penerbitan : 2007
Jumlah halaman : 248




Dalam buku yang berjudul "Dunia Tanpa Sekolah" ini, seorang anak berumur 16 tahun (pada waktu itu)  yang bernama Izza dengan mantap mengundurkan diri dari sebuah sistem yang dianggapnya sangat membatasi dirinya, yaitu sekolah (sebuah lembaga pendidikan formal). Menurut Izza, sekolah formal hanya bisa menjadi penghambat dan pemasung kreativitas juga penjajah kemerdekaannya. Kemantapannya dengan keputusan yang ia ambil membuatnya tidak takut menghadapi anggapan negatif dari orang lain.

Izza ingin hidup dengan mengandalkan kemampuan dan tujuan hidupnya, yaitu menulis. Baginya, Hidup itu Read (membaca), write (menulis) dan Imagine (Mengkhayal), karena dapat memberinya peluang untuk belajar apa saja yang akan bermuara pada cita-cita kemanusiaan.

Begitu banyak rintangan yang dia alami, seperti menentang kedua orang tuanya. Banyak perdebatan hebat  yang dia lalui, baik perdebatan dengan orang tuanya, maupun perdebatan dengan dirinya sendiri. Namun, pada akhirnya kebebasan untuk memilih tujuan hidup (cita-cita) yang menang.

Beberapa kutipan yang saya temukan setelah membaca buku "Dunia Tanpa Sekolah", yaitu:
1. Karena pada hakikatnya, setiap orang punya bakat, latar belakang dan pilihannya sendiri.
2. Paling tidak Aku punya mimpi, dan siapa pun yang berani bermimpi, berarti dia berani mewujudkannya.
3. Pondasi dari istana keberhasilan adalah mimpi itu sendiri.
4. Sementara orang-orang tertawa dan berceloteh, aku malah hidup di bangunan imajinasi yang mulai tersusun bata demi bata.
5. Orang yang hidup dalam keterpaksaan adalah orang yang paling menderita di dunia.
6. Kegagalan berarti keberhasilan yang tertunda, yang terpenting adalah seberapa besar usaha dan dedikasinya.
7. Pendidikan adalah sesuatu yang tidak terlupakan di kepala sampai kapan pun, serta memberi kesan mendalam kepada yang menimbanya.
8. Mengidentifikasi diri dalam sebuah kisah adalah suatu keberhasilan tersendiri. Aku telah memiliki pilihan hidup dan tanggung jawab tersendiri tanpa paksa.
9. Aku adalah diriku sendiri dan sama sekali bukan orang.
10. Guru bukan sebagai seseorang yang berdiri di ruang kelas karena kesannya memaksa. Guru adalah tokoh-tokoh bangsa maupun dunia yang perlu diteladani tingkah lakunya.
11. Tua itu Pasti, dewasa itu pilihan. Usia dan waktu tidak bisa diubah, yang bisa diubah hanya perilaku. Waktu tidak bisa dikontrol dan dikendalikan, perubahanlah yang bisa dilakukan.

Waaahhh... banyak yaaahh.... hahahahaaa //(n_n)//
Tapi inti dari buku ini, bahwa belajar itu tidak terbatas karena di manapun kita berada (formal atau non-formal), dengan apa dan siapa pun kita bisa peroleh pengetahuan. Untuk itu, jangan batasi diri untuk mengetahui segala sesuatu.

Untuk menjadi seorang penulis, tidak membutuhkan bakat yang ada sejak lahir, tapii bakat itu sendiri akan muncul dan berkembang berdasarkan lingkungan yang ada disekitar kita. karena lingkungan adalah faktor eksternal yang sangat berpengaruh.
Namun, yang paling penting adalah niat dan kemauan...

Belajar, belajar, belajar dan terus belajar...

Menulis, menulis, menulis dan terus menulis apa saja... #CEMUNGUD!!!

:: Ku selipkan kata "Penulis" di kalimat ini karena darinya semangat dan motivasi untuk menulis itu ada ::

Rabu, 25 April 2012

Puisi @hurufkecil

Sebuah puisi yang membuat saya penasaran ketika mendengarnya pertama kali. Berkali-kali ku putar ulang musikalisasi puisi kakak @hurufkecil yang ditampilkan oleh Anji dan sempat membuat saya meneteskan air mata. kepada hawa, salah satu puisi di dalam buku puisi tomat "tokoh-tokoh yang melawan kita dalam satu cerita". Menurutku, puisi ini memiliki makna yang sangat dalam.


kepada hawa

aku merelakanmu menjauh
merelakanmu terjatuh ke tempat sampah
bagai sepotong apel merah
yang digeligimu pernah berdarah.

adakah cinta yang jatuh kepadamu melebihi cintaku.

lelaki yang engkau cintai itu mati,dan tidak membawamu ke makamnya
sementara aku bertahan hidup bertahun-tahun sanggup tak mati oleh rindu
dan menanti di surga.

hawa, aku masih ular yang mencintaimu sepanjang usia tuhan.

@hurufkecil

 musikalisasi puisi "kepada hawa" - by Anji

Selasa, 24 April 2012

Pemberontakan Batin Perempuan

Judul    : Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!  Memoar Luka Seorang Muslimah
Penulis    : Muhidin M. Dahlan
Penerbit    : Scripta Manent
Tebal    : 261 halaman

Buku ini menceritakan sebuah kisah perjalanan hidup  seorang perempuan solehah - tubuhnya dihijabi oleh jubah dan jilbab besar - yang akhirnya menjalani cerita hidup yang sebagian orang menganggapnya begitu hina dan kotor, yakni menjadi seorang pelacur.
 

Cerita seorang perempuan yang bernama Nidah Kirani (sering dipanggil Kiran) yang begitu sholeh dan taat dalam menjalankan ibadahnya. Kiran perempuan muda (cantik dan berjilbab) yang melanjutkan sekolahnya di sebuah perguruan tinggi yaitu Kampus Biru. Suasana kampus yang ia lihat sama sekali jauh dari lingkungan yang membesarkannya. Ketertarikannya belajar agama Islam secara kaffah pun dapat ia wujudkan. Ketaatannya pada agama membuatnya hampir melupakan masalah duniawi.

Semangat untuk menegakkan Syariat Islam pun timbul dalam pemikirannya. Semangat itu mendapat jalan ketika dia memasuki sebuah organisasi garis keras yang mencita-citakan tegaknya Syariat Islam di Indonesia. Organisasi yang menurut Kiran dapat mengantarkannya beragama Islam secara kaffah. Namun, di tengah jalan Kiran diterpa badai kekecewaan. Organisasi yang dianggap akan membawa dia dalam kesyahidan ternyata hanya membuat Kiran kehilangan nalar kritis dan imannya. Segala tanya Ia ajukan tak pernah ada jawaban yang pasti, semua dijawab dengan dogma tertutup. Kondisi itu sering ia gugat dan hanya kehampaan yang didapat olehnya.
 

Ketika Kiran ingin mundur dari organisasi itu, Ia mendapat tekanan yang luar biasa beratnya baik dari organisasi tersebut maupun dari dalam dirinya sendiri dan lingkungannya. Dia merasa hidupnya tidak lagi ditolong oleh Tuhan. Tuhan yang selama ini Ia agung-agungkan seperti lari dari tanggung jawab (katanya), dan  bertambah lagi  kekecewaan dalam dirinya.
 

Kiran pun terjerembab di dunia hitam. Rasa kekecewaan itu, Ia lampiaskan dengan free sex dan memakai obat-obat terlarang. “Aku hanya ingin Tuhan melihatku. Lihat aku Tuhan, kan kutuntaskan pemberontakanku pada-Mu!” kata Kiran setelah setiap kali menyelesaikan petualangan seksnya dengan para aktivis-aktivis (sayap Kiri maupun sayap Kanan) bertopeng – ingin menegakkan syariat Islam - yang aslinya dipenuhi kemunafikan.
 

Bukan hanya aktivis-aktivis kampus yang ia temani, ada pula seorang dosen dari Kampusnya bersedia menjadi germonya dalam dunia remang pelacuran yang ternyata anggota DPRD dari fraksi yang selama ini bersikukuh menegakkan tegaknya syariah Islam di Indonesia. Begitu Kerasnya dunia, begitu biasanya kemunafikan, tapi bagi Kiran itulah kehidupan yang kini dijalaninya sebagai pelacur.
 

Kiran sangat menolak konsep pernikahan. Baginya pernikahan merupakan pengebirian kedirian manusia karena ia mengabdikan ketergantungan seorang perempuan, si lemah kepada lakinya. “Apa bedanya pelacur dengan perempuan yang berstatus istri? Posisinya sama. Mereka adalah penikmat dan pelayan seks laki-laki”.
 

"Biarkan Aku Hidup dalam Gelimang Api Dosa, Sebab Terkadang Dosa yang dihikmati, Seorang Manusia Bisa Belajar Dewasa.
Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!  Memoar Luka Seorang Muslimah

Ayusti Dirga. Diberdayakan oleh Blogger.