Judul : Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Memoar Luka Seorang Muslimah
Penulis : Muhidin M. Dahlan
Penerbit : Scripta Manent
Tebal : 261 halaman
Penulis : Muhidin M. Dahlan
Penerbit : Scripta Manent
Tebal : 261 halaman
Buku ini menceritakan sebuah kisah perjalanan hidup seorang perempuan solehah - tubuhnya dihijabi oleh jubah dan jilbab besar - yang akhirnya menjalani cerita hidup yang sebagian orang menganggapnya begitu hina dan kotor, yakni menjadi seorang pelacur.
Cerita seorang perempuan yang bernama Nidah Kirani (sering dipanggil Kiran) yang begitu sholeh dan taat dalam menjalankan ibadahnya. Kiran perempuan muda (cantik dan berjilbab) yang melanjutkan sekolahnya di sebuah perguruan tinggi yaitu Kampus Biru. Suasana kampus yang ia lihat sama sekali jauh dari lingkungan yang membesarkannya. Ketertarikannya belajar agama Islam secara kaffah pun dapat ia wujudkan. Ketaatannya pada agama membuatnya hampir melupakan masalah duniawi.
Semangat untuk menegakkan Syariat Islam pun timbul dalam pemikirannya. Semangat itu mendapat jalan ketika dia memasuki sebuah organisasi garis keras yang mencita-citakan tegaknya Syariat Islam di Indonesia. Organisasi yang menurut Kiran dapat mengantarkannya beragama Islam secara kaffah. Namun, di tengah jalan Kiran diterpa badai kekecewaan. Organisasi yang dianggap akan membawa dia dalam kesyahidan ternyata hanya membuat Kiran kehilangan nalar kritis dan imannya. Segala tanya Ia ajukan tak pernah ada jawaban yang pasti, semua dijawab dengan dogma tertutup. Kondisi itu sering ia gugat dan hanya kehampaan yang didapat olehnya.
Ketika Kiran ingin mundur dari organisasi itu, Ia mendapat tekanan yang luar biasa beratnya baik dari organisasi tersebut maupun dari dalam dirinya sendiri dan lingkungannya. Dia merasa hidupnya tidak lagi ditolong oleh Tuhan. Tuhan yang selama ini Ia agung-agungkan seperti lari dari tanggung jawab (katanya), dan bertambah lagi kekecewaan dalam dirinya.
Kiran pun terjerembab di dunia hitam. Rasa kekecewaan itu, Ia lampiaskan dengan free sex dan memakai obat-obat terlarang. “Aku hanya ingin Tuhan melihatku. Lihat aku Tuhan, kan kutuntaskan pemberontakanku pada-Mu!” kata Kiran setelah setiap kali menyelesaikan petualangan seksnya dengan para aktivis-aktivis (sayap Kiri maupun sayap Kanan) bertopeng – ingin menegakkan syariat Islam - yang aslinya dipenuhi kemunafikan.
Bukan hanya aktivis-aktivis kampus yang ia temani, ada pula seorang dosen dari Kampusnya bersedia menjadi germonya dalam dunia remang pelacuran yang ternyata anggota DPRD dari fraksi yang selama ini bersikukuh menegakkan tegaknya syariah Islam di Indonesia. Begitu Kerasnya dunia, begitu biasanya kemunafikan, tapi bagi Kiran itulah kehidupan yang kini dijalaninya sebagai pelacur.
Kiran sangat menolak konsep pernikahan. Baginya pernikahan merupakan pengebirian kedirian manusia karena ia mengabdikan ketergantungan seorang perempuan, si lemah kepada lakinya. “Apa bedanya pelacur dengan perempuan yang berstatus istri? Posisinya sama. Mereka adalah penikmat dan pelayan seks laki-laki”.
"Biarkan Aku Hidup dalam Gelimang Api Dosa, Sebab Terkadang Dosa yang dihikmati, Seorang Manusia Bisa Belajar Dewasa.
Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Memoar Luka Seorang Muslimah
Cerita seorang perempuan yang bernama Nidah Kirani (sering dipanggil Kiran) yang begitu sholeh dan taat dalam menjalankan ibadahnya. Kiran perempuan muda (cantik dan berjilbab) yang melanjutkan sekolahnya di sebuah perguruan tinggi yaitu Kampus Biru. Suasana kampus yang ia lihat sama sekali jauh dari lingkungan yang membesarkannya. Ketertarikannya belajar agama Islam secara kaffah pun dapat ia wujudkan. Ketaatannya pada agama membuatnya hampir melupakan masalah duniawi.
Semangat untuk menegakkan Syariat Islam pun timbul dalam pemikirannya. Semangat itu mendapat jalan ketika dia memasuki sebuah organisasi garis keras yang mencita-citakan tegaknya Syariat Islam di Indonesia. Organisasi yang menurut Kiran dapat mengantarkannya beragama Islam secara kaffah. Namun, di tengah jalan Kiran diterpa badai kekecewaan. Organisasi yang dianggap akan membawa dia dalam kesyahidan ternyata hanya membuat Kiran kehilangan nalar kritis dan imannya. Segala tanya Ia ajukan tak pernah ada jawaban yang pasti, semua dijawab dengan dogma tertutup. Kondisi itu sering ia gugat dan hanya kehampaan yang didapat olehnya.
Ketika Kiran ingin mundur dari organisasi itu, Ia mendapat tekanan yang luar biasa beratnya baik dari organisasi tersebut maupun dari dalam dirinya sendiri dan lingkungannya. Dia merasa hidupnya tidak lagi ditolong oleh Tuhan. Tuhan yang selama ini Ia agung-agungkan seperti lari dari tanggung jawab (katanya), dan bertambah lagi kekecewaan dalam dirinya.
Kiran pun terjerembab di dunia hitam. Rasa kekecewaan itu, Ia lampiaskan dengan free sex dan memakai obat-obat terlarang. “Aku hanya ingin Tuhan melihatku. Lihat aku Tuhan, kan kutuntaskan pemberontakanku pada-Mu!” kata Kiran setelah setiap kali menyelesaikan petualangan seksnya dengan para aktivis-aktivis (sayap Kiri maupun sayap Kanan) bertopeng – ingin menegakkan syariat Islam - yang aslinya dipenuhi kemunafikan.
Bukan hanya aktivis-aktivis kampus yang ia temani, ada pula seorang dosen dari Kampusnya bersedia menjadi germonya dalam dunia remang pelacuran yang ternyata anggota DPRD dari fraksi yang selama ini bersikukuh menegakkan tegaknya syariah Islam di Indonesia. Begitu Kerasnya dunia, begitu biasanya kemunafikan, tapi bagi Kiran itulah kehidupan yang kini dijalaninya sebagai pelacur.
Kiran sangat menolak konsep pernikahan. Baginya pernikahan merupakan pengebirian kedirian manusia karena ia mengabdikan ketergantungan seorang perempuan, si lemah kepada lakinya. “Apa bedanya pelacur dengan perempuan yang berstatus istri? Posisinya sama. Mereka adalah penikmat dan pelayan seks laki-laki”.
"Biarkan Aku Hidup dalam Gelimang Api Dosa, Sebab Terkadang Dosa yang dihikmati, Seorang Manusia Bisa Belajar Dewasa.
Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Memoar Luka Seorang Muslimah

0 comments:
Posting Komentar