Senin, 08 Desember 2014

HUJAN, PUTRI DAN KENANGAN

Hari yang dimulai dengan matahari dari timur yang malu-malu menampakkan dirinya. Awan-awan hitam dari barat dengan gagah berani seperti para penjajah yang siap bertempur untuk menjajah indahnya langit biru dan menghalangi sinar matahari masuk ke atmosfer bumi. Dedaunan yang masih menyisakan air hujan kemarin. Anak-anak berseragam yang mempercepat langkahnya agar hujan tidak menjadi alasan mereka terlambat ke sekolah masing-masing.

Photo0061
Hujan membawa kenangan :I

Seperti hari biasanya Puteri bergegas dari posisi ternyamannya untuk sebuah kewajiban sebagai saudara yang baik. Puteri mengantar saudaranya untuk mendapatkan transportasi ke tempat kuliahnya, sudah menjadi kebiasaan yang rutin setiap minggu. Setelah melaksanakan tugasnya, Puteri langsung pulang ke rumah dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Hampir pukul 10.00 WITA, Puteri bersiap-siap ke kampus dan ternyata hujan. Niat yang tadinya terkumpul dengan baik, kini terhambur seperti tetesan-tetesan air hujan dari langit. Pakaian yang sudah rapi diganti secepatnya dan Puteri bergegas melanjutkan pekerjaannya.

Jarum jam menunjukkan pukul 15.00 WITA dan langit masih gelap dengan awan hitam yang menghiasinya. Puteri menyalakan dan mengotak-atik file-file yang ada di laptopnya. Dia buka album foto yang ada di dalam salah satu folder-nya.

Kutipan Perempuan Mencatat Kenangan
Teringat tentang buku yang pernah Puteri baca setahun lalu, “Perempuan Mencatat Kenangan”. Buku yang menceritakan tentang perempuan-perempuan hebat yang menceritakan kenangan-kenagan bersama orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, saudara, sahabat, teman dekat (kekasih) dan orang-orang yg hidup di masa lalu mereka. Saat itu pula Puteri seperti sedang berziarah bersama kenangan-kenangan masa lalu bersama orang-orang terdekatnya. Suka duka, tawa dan tangis yang pernah Ia alami hanya menjadi kenangan yang sewaktu-waktu hanya dapat diingat saja namun tak akan pernah dirasakan kembali. Kenangan hanya akan menjadi kenangan, tak perlu didalami dan disesali lagi tapi hanya bias diambil sebagai pelajaran untuk kedepannya saja.

Tersadarkan oleh sebuah nada dering tanda panggilan masuk, Puteri segera menyudahi ziarah kenangannya dan seperti ada mesin waktu kembali ke masa sekarang dan berpikir apa yang akan dilakukan ke depannya. Mata tertuju ke jam dinding yang menunjukkan pukul 17.00 Wita, tanda sebuah kewajiban harus dilaksanakan lagi.

SENIN, 8 Desember 2014
pukul 22.10 WITA

0 comments:

Posting Komentar

Ayusti Dirga. Diberdayakan oleh Blogger.