Jumat, 20 Februari 2015

PERCAYA DI BALIK PERCAYA

Salam,

Terima kasih untuk kesediaanmu membaca suratku ini. Bagaimana kabarmu hari ini? Saya harap kamu baik-baik saja. Di sini akupun demikian, masih dalam keadaan baik-baik saja.

Beberapa waktu yang lalu, kamu bercerita tentang temanmu yang kau ajak untuk ikut di acaramu. Kau kelihatan senang dan bercerita tanpa beban. Dia membangunkanmu dari tidurmu dan berjalan bersamamu ke tempat itu, berdua. Kamu pun mengantarnya pulang ke tempat dia titipkan kendaraannya. Saya tahu kamu mengajaknya karena acara itu sedikit banyak berkaitan dengan bidang ilmu yang digelutinya, dan ingin membantu adik-adikmu juga.

Aku senang kamu bercerita tentangnya, tapi kenapa sepertinya di kepalaku terbersit pertanyaan yang susah sekali untuk dikeluarkan. Kenapa harus dia? Ku pikir masih banyak yang lain, tapi kenapa harus dia? Maaf, saya bodoh bertanya seperti itu. Tapi untung saja pertanyaan itu masih di kepala saya. Jika pertanyaan itu keluar dari mulut ini, sama saja saya tidak percaya pada diri saya sendiri bahwa saya menaruh percaya kepadamu itu sepenuh hati.

Kamu pun bertanya kepadaku apakah saya cemburu atau tidak? Tentu saja saya menjawab tidak. Saya tidak ingin merasa cemburu karena saya pun tidak ingin dicemburui. Setelah ku jawab pertanyaanmu dengan alasannya. kamu berkata bahwa kamu harusnya cemburu, karena cemburu itu tanda sayang. Tapi saya bilang kalau saya cemburu, berarti saya meragukan kamu dan tidak percaya sepenuhnya padamu.

Saya tidak cemburu dan tak akan pernah cemburu dengan perempuan lain, karena saya percaya pada diri saya sepercaya kamu mempercayai saya.

Tertanda,

Perempuan yang Mempercayaimu

Kamis, 05 Februari 2015

(Bukan) Surat Biasa



Kepada wanita yang duduk di pojok ruangan.

Maafkan saya. Saat itu hanya bisa melihatmu terdiam dan termenung sendiri. Maafkan saya kalau saya memperhatikanmu terlalu lama. Saya tak tahu apa yang terjadi pada perempuan itu, tapi tak ada keberanian sedikit pun untuk menanyakannya kepadamu. Saya tahu kalau dirimu sedang bersedih, tapi entah apa yang membuatmu seperti itu sampai kamu tak malu untuk mengeluarkan air matamu.

Banyak orang yang melihatmu bersedih dan kamu menangis terisak karena sesuatu yang belum saya tahu. Rasa ingin tahu saya semakin bertambah saat kamu tak mampu menahan rasa sakit dalam wujud air mata itu. Saya memberanikan diri untuk menghampirimu. Saya menanyakan keadaanmu. Kamu menjawab baik-baik saja. Saya tidak puas dengan jawaban itu. Saya tahu, kamu tidak sedang baik-baik saja. Kamu sedang merasakan sakit yang tidak bisa kamu kendalikan lagi. Apa yang membuatmu merasa sesakit ini?

Beberapa saat di sampingmu, terpikir di kepalaku, ketika orang menangis, pasti orang itu akan dehidrasi. Lalu ku langakahkan kakiku menuju sebuah kantin untuk membeli air dan memberimu. Sebotol air mineral dan dengan senang hati kamu menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Sebagai peempuan, saya bisa merasakan sakit seperti itu tanpa tahu apa sebab dan alasannya. Kita sama-sama perempuan yang kata orang awam sangat sensitif pada wilayah perasaan.

Setelah beberapa lama, tangismu mulai mereda. Ku berikan sapu tangan pemberian ayahku untuk  menghapus air mata yang sejak tadi membasahi pipimu. Dengan usaha yang keras kamu mulai menghentikan isak tangismu. Kau mulai minum dan mengucapkan kata terima kasih (lagi). Kamu mulai ingin terbuka dan ingin bercerita padaku.

Oh yaa, kita tidak sempat berkenalan saat itu. Perkenalkan, nama saya Ayus. Kita pernah belajar di kampus yang sama tapi  dengan atap yang berbeda beberapa tahun lalu.

Ceritamu sangat menyentuh wilayah sensitifku (hati), kau bercerita tentang seorang yang kamu sayangi memperlakukanmu secara tidak adil. Tak perlulah saya ceritakan kembali apa yang kau beritahukan kepadaku waktu itu, karena saya pikir kamu masih ingat. Satu hal yang membuat belajar tentang hal yang sangat berarti. Kamu berusaha sekuat tenaga mempertahankan apa yang kau yakinkan pada dirimu sejak lama. Komitmen yang terjalin beberapa tahun berlalu, tetap kau pegang teguh walaupun di lain sisi kamu merasa sakit. Sangat sakit diperlakukan tidak adil. Saya juga tidak menyalahkan siapa pun. Semua orang pasti pernah salah. Saya tahu. Tapi saya kagum padamu. Kamu tegar. Sangat tegar malah. Setelah kamu menceritakan semua keluh kesahmu, tampak di wajahmu sedikit perubahan raut muka. Lebih bisa tersenyum dari yang sebelumnya.

Saya senang kamu mau mebagi sedikit kisahmu padaku. Terima kasih atas kepercayaan itu. Terima kasih sudah ingin mendengarkan pendapatku. Terima kasih (juga) sudah tersenyum.
Apakah kita akan berkenalan lebih lanjut? Berteman dan menjadi sahabat? Saya punya banyak teman tanpa (ber)sahabat.

Dari,

Calon sahabat perempuanmu

Selasa, 03 Februari 2015

Tanpa Perkenalan

Perkenalkan, nama saya Ayus. Kita pernah berada di forum yang sama. Saat kau baca surat ku ini, pikiranmu tentang saya kembali lagi. Mungkin saja sekarang kamu sedang berusaha keras mengingatnya. Siapa saya, bagimana saya, ataukah  kapan kita saling mengenal. Yah, kita tidak pernah saling menyapa apalagi kenalan. Kita hanya saling mencuri pandang satu sama lain. Pandangan yang sesekali disertai dengan senyuman tipis dari wajahmu. pandangan yang membuat saya sedikit malu-malu dan memerahkan pipi saya. Sungguh tak enak rasanya di tengah banyaknya orang, pipi seperti buah apel yang telah siap dipetik lalu dimakan.

Tidakkah kamu ingat, hari itu bertepatan dengan hari ini? 4 Februari tiga tahun lalu. Kita bertemu saat mengikuti sebuah kegiatan jurnalistik tidak jauh dari kampus. Waktu itu, kamu memakai pakaian serba hitam, dari baju, celana sampai sepatu warna hitam, seperti pelayat. Lucu saja melihatmu dengan penampilan seperti itu. Karena Kamu  datang terlambat, jadinya harus duduk di kursi paling belakang. Mungkin kau tidak ingat, ada seorang perempuan yang duduk tepat di samping kananmu. Perempuan itu memakai baju cokelat, rok hitam dan jilbab hitam. Perempuan itu adalah saya. Perempuan yang telah kau curi pandangannya. Perempuan yang sampai saat ini tak tahu siapa namamu dan bagaimana kabarmu.

Hari itu kita tidak sempat berkenalan karena kau sibuk berbicara dengan temanmu. Kamu tidak sempat  memperhatikan saya atau pun sekedar menyapa. Hanya wajahmu saja yang memperlihatkan senyuman manis yang membuat saya sedikit tertarik. Apa mungkin saya tidak menarik yah? Menarik atau tidaknya seseorang sebenarnya bukan dilihat dari penampilan, sih. Tapi kan kalau dipikir-pikir, yang pertama dilihat oleh orang lain kan, fisiknya. Yah, waktu itu saya masih lugu, tak seperti sekarang yang super aktif.

Saya lupa menyanyakan kabarmu, Bagaimana kabarmu sekarang? Ku dengar kamu sudah memiliki seorang perempuan yang special dan kamu akan segera menikah? Selamat yah. Saya tahu itu dari hasil stalking di akun media socialmu. Saya lihat banyak fotomu dan perempuan itu. Kalian sangat serasi, sama-sama manis. Semoga hubungan kalian langgeng.

Saat ini, dari tempat saya menulis surat ini, saya ingin berterima kasih padamu. Terima kasih pernah menjadi teman khayalan saya. Teman yang hanya bisa saya ingat dengan senyuman manisnya tanpa perkenalan ataupun sapaan. Terima kasih.
Saya teringat serabgkaian kata, “kita seperti hujan dan teduh, ditakdirkan bertemu tapi tidak untuk bersama dan jalan beriringan”. Semoga saja masa yang akan datang, kita bertemu lagi, saling menyapa dan berkenalan.
Tertanda,

Teman yang belum mengenalmu

Senin, 02 Februari 2015

Kesalahan Kecil



Teruntuk  kesayanganku.

Kamu tahu bagaimana keadaanku hari ini?
Kamu tahu apa yang saya rasakan sekarang?
Hari ini, saya senang sekali.
Hari ini kamu membuat saya tidak bisa melupakan apa yang kita lakukan kemarin.
Kita pergi berdua di sebuah tempat wisata yang ada di kota kita.

Kau yang rela meluangkan waktu di sela-sela kesibukanmu, membuat saya sadar bahwa saya adalah seorang perempuan yang beruntung.
Karena bisa menjadi perempuan yang bisa menjadi alasan untuk menyisihkan waktumu. Perempuan yang selalu ada di sampingmu ketika kamu lelah setelah bekerja keras.
Saya tahu kalau kamu bekerja keras bukan untuk dirimu atau keluargamu saja, tapi kerja kerasmu juga untuk kita. Kita yang telah kita cita-citakan bersama jauh sebelum ini.

Sayang…
Sebelum menulis surat ini, secara tidak sengaja, saya melakukan sebuah kesalahan.
Kesalahan kecil yang bisa membuatmu sedih.
Kesalahan yang tidak saya rencanakan atau saya inginkan.
Saya lupa mengirimkanmu kabar lewat sms atau telepon.
Saya sangat sibuk berbenah rumah dari tadi pagi.
Untuk itu, saya menulis surat ini.
Saya ingin menebus kesalahan kecil saya pagi tadi.
Sekali lagi, maaf.
Tertanda,

Perempuan kecilmu :)

Cinta Pertama Anak Perempuanmu



Teruntuk Lelaki Cinta Pertamaku,

Tepat pukul 11.08 WITA surat ini saya tulis dari kota nan jauh dari tempat tinggalmu. Bagaimana kabarmu di sana? Bagaimana kabar istri dan kedua anak perempuanmu? Saya berharap kamu dan mereka baik-baik saja. Saya di sini hanya bisa berusaha mendoakanmu agar kamu sehat selalu. Apakah kamu masih ingat kapan kita terakhir bertemu? Kalau tidak salah, sebulan yang lalu kan? Kamu berkunjung ke rumahku dan membantuku berbenah rumah. Waktu itu, kamu tiba di rumah sekitar pukul 11 malam. Wajahmu tampak lelah setelah perjalanan jauh. Saya paling tahu kalau kamu tidak biasa dengan perjalanan sejauh ini. Tapi kamu tidak menampakkan kelelahan itu. Tahukah kamu kalau saya kasihan melihatmu, namun tak mampu untuk mengucapkan kalimat lain selain “cepat istirahat dan tidur”? yah, kamu tidak mungkin tahu karena komunikasi kita tidak terlalu lancer setelah saya merantau ke kota Daeng ini.

Pagi itu hujan sangat deras, kamu bangun lebih pagi dari saya. Segera kamu berbenah rumah dan mengatasi bagian rumah yang bocor. Minuman kesukaanmu untuk sarapan setiap pagi sudah saya siapkan, segelas susu dan beberapa kue. Kamu hanya bertanya pada saya, kapan saya keluar rumah. Saya hanya menjawab saya tidak keluar dan tidak akan keluar ke mana-mana untuk hari ini, karena hari ini, agenda saya hanya membantu kamu berbenah rumah.

Tahukah kamu, kalau hari itu saya sangat senang? Yah, saya sangat senang dengan kedatanganmu dan kesediaanmmu untuk membantu saya berbenah rumah. Ingat kah kamu saat beberapa tahun lalu di kota asal kita? Waktu itu saya masih anak putih abu-abu. Pagi itu, saya hanya bisa melihatmu berbenah dan membersihkan pekarangan dari jendela kamarku. Saat itu, saya ingin membantumu, tapi saya tahu kalau kamu pasti melarangku. Saya tahu kamu tidak akan membiarkan saya untuk membantumu membersihkan pekarangan rumah. Saya tahu kalau kamu akan menyuruh saya untuk tinggal di dalam rumah dan menyantap sarapan yang sudah disiapkan oleh ibu saya. Saya tidak bisa membantah apa yang kamu inginkan. Jadi saya hanya tinggal di rumah.

Masih ingat kan? kamu akan selalu menyempatkan waktu buat mengantar saya ke sekolah kalau saya sudah ketinggalan pete-pete? Kamu sangat baik seperti ayah yang sering ku panggil “bapak”. Kamu juga selalu menjemput saya sepulang sekolah. Dan kamu tahu kalau saya selalu sabar menunggumu hingga kamu datang. Pernah suatu hari kamu mungkin lupa menjemput saya. Selama dua jam lebih saya menunggu di depan sekolah dan melihat jam tangan saya, berpikir dan betanya-tanya, kapan kamu datang? Waktu itu saya tidak bisa menghubungimu, kan kita tidak memiliki handphone. Saat kamu datang, mata saya berkaca-kaca dan saya bahagia kamu akhirnya datang menjemput saya. Masih banyak kebaikanmu yang tidak sempat saya tulis di surat ini. Maaf.

Kamu adalah lelaki pertama dalam hidupku, kamu adalah pahlawan dalam hidupku dan cinta pertamaku. Terima kasih, Bapak. Terima kasih telah menjaga keluargamu. Terima kasih atas jasa-jasamu selama ini. Semoga kamu selalu sehat dan sabar menjaga ketiga perempuan penting dalam hidupmu.

Salam peluk dan sayang untuk.mu, lelaki cinta pertamaku.

Tertanda,

Perempuan terakhir dalam hidupmu

Minggu, 01 Februari 2015

Februari Bercerita Tentang Akhir Januari



Teruntuk kamu yang setia.
 Perjalanan kemarin sungguh melelahkan. Perjalanan yang memerlukan waktu kurang dari 2 jam mengendarai motor bersama kawan karibku. Melewati jalan yang tidak mulus dan berbelok-belok. Sepanjang jalan, saya hanya berpikir, kapan saya sampai? Kapan kita bertemu? Saya sudah tak sabar. Jalanan aspal yang sedikit berlubang dan berair membuat saya harus berkendara dengan hati-hati. Jalanan berbelok-belok tanpa ada lampu jalan, hutan-hutan yang menyeramkan dan rumah penduduk yang bisa dihitung dengan jari membuat saya sedikit takut. Setelah sampai di sana, saya tidak menyangka kalau kami harus jalan sejauh kurang lebih 200 meter untuk sampai di tempatmu berada karena jalanan berlumpur dan sangat terjal. Dengan penerangan yang seadanya, kami berjalan dan berpegangan pada pagar-pagar pembatas agar tidak terpeleset dan terjatuh. Melelahkan memang. Sangat melelahkan, namun mengunjungimu bisa menghapus rasa lelahku, atau lebih tepatnya rasa lelah merindukanmu.

 Tahukah kamu saat kita bertemu, saya sangat ingin memelukmu? Yah, memelukmu dengan erat. Tapi tenang, itu hanya di alam pikiranku saja. Saya sadar kalau kita harus bersabar sampai saatnya Tuhan menyatukan kita. Saat sampai ke tempatmu, yang saya lihat hanya kumpulan orang-orang yang sedang menonton sebuah pertunjukan. Mata saya belum menangkap wajahmu. Radar saya juga belum menangkap signal keberadaanmu. Kamu terlihat setelah acara itu selesai. Jelas saja kamu tak terlihat, kamu ada di belakang orang-orang itu, seperti bersembunyi dan menunggu Tuhan memberi kesempatan buat kita untuk bertemu. Seorang teman memberi tahu padamu tentang kedatanganku. Ku dengar kamu mencariku, dan selang beberapa menit, saya menghampirimu. Akhirnya kita bertemu. Akhirnya rencana menghabiskan hari terakhir Januari bersama terealisasikan.

Senang rasanya saya bisa mengunjungimu kemarin.  Walau tak lebih dari 8 jam kita bersama, tapi setidaknya rencana kita bisa terwujud. Terima kasih, Tuhan. Di penghujung Januari ini memang menyenangkan. Sangat menyenangkan.

Hari ini awal februari. Bagaimana kabarmu hari ini? Bagaimana kegiatanmu di sana? Lancar, kan? Apakah istirahatmu cukup? Maaf kalau saya terlalu banyak tanya dan saya tidak bisa berlama-lama di sana untuk menemanimu. Saya sudah mengagendakan beberapa kegiatan yang akan saya ikuti hari ini sebelumnya. Tanggung jawab sebagai manusia yang peduli akan tugas yang telah diembankan dan ini tanggung jawab sosial. Masihkah kamu semangat untuk menyemangatiku, lelaki sang pemilik hatiku? Masihkah kamu mau menyemangati perempuan sederhanamu yang sedang tergeletak sakit ini? Masihkah kamu mau menjaga perempuan sederhanamu yang lalai menjaga kesehatannya? Semoga kamu sabar dan setia.

Tertanda,

Perempuan penampung semangatmu
Ayusti Dirga. Diberdayakan oleh Blogger.