Perkenalkan, nama saya Ayus. Kita pernah berada di forum yang
sama. Saat kau baca surat ku ini, pikiranmu tentang saya kembali lagi. Mungkin
saja sekarang kamu sedang berusaha keras mengingatnya. Siapa saya, bagimana
saya, ataukah kapan kita saling mengenal.
Yah, kita tidak pernah saling menyapa apalagi kenalan. Kita hanya saling
mencuri pandang satu sama lain. Pandangan yang sesekali disertai dengan
senyuman tipis dari wajahmu. pandangan yang membuat saya sedikit malu-malu dan
memerahkan pipi saya. Sungguh tak enak rasanya di tengah banyaknya orang, pipi
seperti buah apel yang telah siap dipetik lalu dimakan.
Tidakkah kamu ingat, hari itu bertepatan dengan hari ini? 4
Februari tiga tahun lalu. Kita bertemu saat mengikuti sebuah kegiatan
jurnalistik tidak jauh dari kampus. Waktu itu, kamu memakai pakaian serba
hitam, dari baju, celana sampai sepatu warna hitam, seperti pelayat. Lucu saja
melihatmu dengan penampilan seperti itu. Karena Kamu datang terlambat, jadinya harus duduk di kursi
paling belakang. Mungkin kau tidak ingat, ada seorang perempuan yang duduk
tepat di samping kananmu. Perempuan itu memakai baju cokelat, rok hitam dan
jilbab hitam. Perempuan itu adalah saya. Perempuan yang telah kau curi
pandangannya. Perempuan yang sampai saat ini tak tahu siapa namamu dan
bagaimana kabarmu.
Hari itu kita tidak sempat berkenalan karena kau sibuk
berbicara dengan temanmu. Kamu tidak sempat
memperhatikan saya atau pun sekedar menyapa. Hanya wajahmu saja yang
memperlihatkan senyuman manis yang membuat saya sedikit tertarik. Apa mungkin
saya tidak menarik yah? Menarik atau tidaknya seseorang sebenarnya bukan
dilihat dari penampilan, sih. Tapi kan kalau dipikir-pikir, yang pertama
dilihat oleh orang lain kan, fisiknya. Yah, waktu itu saya masih lugu, tak seperti
sekarang yang super aktif.
Saya lupa menyanyakan kabarmu, Bagaimana kabarmu sekarang? Ku
dengar kamu sudah memiliki seorang perempuan yang special dan kamu akan segera
menikah? Selamat yah. Saya tahu itu dari hasil stalking di akun media socialmu. Saya lihat banyak fotomu dan
perempuan itu. Kalian sangat serasi, sama-sama manis. Semoga hubungan kalian
langgeng.
Saat ini, dari tempat saya menulis surat ini, saya ingin
berterima kasih padamu. Terima kasih pernah menjadi teman khayalan saya. Teman
yang hanya bisa saya ingat dengan senyuman manisnya tanpa perkenalan ataupun
sapaan. Terima kasih.
Saya teringat serabgkaian kata, “kita seperti hujan dan
teduh, ditakdirkan bertemu tapi tidak untuk bersama dan jalan beriringan”.
Semoga saja masa yang akan datang, kita bertemu lagi, saling menyapa dan
berkenalan.
Tertanda,
Teman
yang belum mengenalmu

0 comments:
Posting Komentar