Selasa, 03 Februari 2015

Tanpa Perkenalan

Perkenalkan, nama saya Ayus. Kita pernah berada di forum yang sama. Saat kau baca surat ku ini, pikiranmu tentang saya kembali lagi. Mungkin saja sekarang kamu sedang berusaha keras mengingatnya. Siapa saya, bagimana saya, ataukah  kapan kita saling mengenal. Yah, kita tidak pernah saling menyapa apalagi kenalan. Kita hanya saling mencuri pandang satu sama lain. Pandangan yang sesekali disertai dengan senyuman tipis dari wajahmu. pandangan yang membuat saya sedikit malu-malu dan memerahkan pipi saya. Sungguh tak enak rasanya di tengah banyaknya orang, pipi seperti buah apel yang telah siap dipetik lalu dimakan.

Tidakkah kamu ingat, hari itu bertepatan dengan hari ini? 4 Februari tiga tahun lalu. Kita bertemu saat mengikuti sebuah kegiatan jurnalistik tidak jauh dari kampus. Waktu itu, kamu memakai pakaian serba hitam, dari baju, celana sampai sepatu warna hitam, seperti pelayat. Lucu saja melihatmu dengan penampilan seperti itu. Karena Kamu  datang terlambat, jadinya harus duduk di kursi paling belakang. Mungkin kau tidak ingat, ada seorang perempuan yang duduk tepat di samping kananmu. Perempuan itu memakai baju cokelat, rok hitam dan jilbab hitam. Perempuan itu adalah saya. Perempuan yang telah kau curi pandangannya. Perempuan yang sampai saat ini tak tahu siapa namamu dan bagaimana kabarmu.

Hari itu kita tidak sempat berkenalan karena kau sibuk berbicara dengan temanmu. Kamu tidak sempat  memperhatikan saya atau pun sekedar menyapa. Hanya wajahmu saja yang memperlihatkan senyuman manis yang membuat saya sedikit tertarik. Apa mungkin saya tidak menarik yah? Menarik atau tidaknya seseorang sebenarnya bukan dilihat dari penampilan, sih. Tapi kan kalau dipikir-pikir, yang pertama dilihat oleh orang lain kan, fisiknya. Yah, waktu itu saya masih lugu, tak seperti sekarang yang super aktif.

Saya lupa menyanyakan kabarmu, Bagaimana kabarmu sekarang? Ku dengar kamu sudah memiliki seorang perempuan yang special dan kamu akan segera menikah? Selamat yah. Saya tahu itu dari hasil stalking di akun media socialmu. Saya lihat banyak fotomu dan perempuan itu. Kalian sangat serasi, sama-sama manis. Semoga hubungan kalian langgeng.

Saat ini, dari tempat saya menulis surat ini, saya ingin berterima kasih padamu. Terima kasih pernah menjadi teman khayalan saya. Teman yang hanya bisa saya ingat dengan senyuman manisnya tanpa perkenalan ataupun sapaan. Terima kasih.
Saya teringat serabgkaian kata, “kita seperti hujan dan teduh, ditakdirkan bertemu tapi tidak untuk bersama dan jalan beriringan”. Semoga saja masa yang akan datang, kita bertemu lagi, saling menyapa dan berkenalan.
Tertanda,

Teman yang belum mengenalmu

0 comments:

Posting Komentar

Ayusti Dirga. Diberdayakan oleh Blogger.