Teruntuk Lelaki Cinta
Pertamaku,
Tepat pukul 11.08 WITA surat ini saya tulis dari
kota nan jauh dari tempat tinggalmu. Bagaimana kabarmu di sana? Bagaimana kabar
istri dan kedua anak perempuanmu? Saya berharap kamu dan mereka baik-baik saja.
Saya di sini hanya bisa berusaha mendoakanmu agar kamu sehat selalu. Apakah kamu
masih ingat kapan kita terakhir bertemu? Kalau tidak salah, sebulan yang lalu
kan? Kamu berkunjung ke rumahku dan membantuku berbenah rumah. Waktu itu, kamu tiba
di rumah sekitar pukul 11 malam. Wajahmu tampak lelah setelah perjalanan jauh.
Saya paling tahu kalau kamu tidak biasa dengan perjalanan sejauh ini. Tapi kamu
tidak menampakkan kelelahan itu. Tahukah kamu kalau saya kasihan melihatmu,
namun tak mampu untuk mengucapkan kalimat lain selain “cepat istirahat dan
tidur”? yah, kamu tidak mungkin tahu karena komunikasi kita tidak terlalu lancer
setelah saya merantau ke kota Daeng ini.
Pagi itu hujan sangat deras, kamu bangun lebih pagi
dari saya. Segera kamu berbenah rumah dan mengatasi bagian rumah yang bocor. Minuman
kesukaanmu untuk sarapan setiap pagi sudah saya siapkan, segelas susu dan
beberapa kue. Kamu hanya bertanya pada saya, kapan saya keluar rumah. Saya hanya
menjawab saya tidak keluar dan tidak akan keluar ke mana-mana untuk hari ini,
karena hari ini, agenda saya hanya membantu kamu berbenah rumah.
Tahukah kamu, kalau hari itu saya sangat senang? Yah,
saya sangat senang dengan kedatanganmu dan kesediaanmmu untuk membantu saya
berbenah rumah. Ingat kah kamu saat beberapa tahun lalu di kota asal kita? Waktu
itu saya masih anak putih abu-abu. Pagi itu, saya hanya bisa melihatmu berbenah
dan membersihkan pekarangan dari jendela kamarku. Saat itu, saya ingin
membantumu, tapi saya tahu kalau kamu pasti melarangku. Saya tahu kamu tidak
akan membiarkan saya untuk membantumu membersihkan pekarangan rumah. Saya tahu
kalau kamu akan menyuruh saya untuk tinggal di dalam rumah dan menyantap
sarapan yang sudah disiapkan oleh ibu saya. Saya tidak bisa membantah apa yang
kamu inginkan. Jadi saya hanya tinggal di rumah.
Masih ingat kan? kamu akan selalu menyempatkan waktu
buat mengantar saya ke sekolah kalau saya sudah ketinggalan pete-pete? Kamu sangat
baik seperti ayah yang sering ku panggil “bapak”. Kamu juga selalu menjemput
saya sepulang sekolah. Dan kamu tahu kalau saya selalu sabar menunggumu hingga
kamu datang. Pernah suatu hari kamu mungkin lupa menjemput saya. Selama dua jam
lebih saya menunggu di depan sekolah dan melihat jam tangan saya, berpikir dan
betanya-tanya, kapan kamu datang? Waktu itu saya tidak bisa menghubungimu, kan
kita tidak memiliki handphone. Saat kamu
datang, mata saya berkaca-kaca dan saya bahagia kamu akhirnya datang menjemput
saya. Masih banyak kebaikanmu yang tidak sempat saya tulis di surat ini. Maaf.
Kamu adalah lelaki pertama dalam hidupku, kamu
adalah pahlawan dalam hidupku dan cinta pertamaku. Terima kasih, Bapak. Terima kasih
telah menjaga keluargamu. Terima kasih atas jasa-jasamu selama ini. Semoga kamu
selalu sehat dan sabar menjaga ketiga perempuan penting dalam hidupmu.
Salam
peluk dan sayang untuk.mu, lelaki cinta pertamaku.
Tertanda,
Perempuan terakhir dalam hidupmu


3 comments:
ciee.....
Tiap hari jadi keterusan baca suratnya nih :)
terima kasih :)
kritik dan sarannya yah :)
Posting Komentar