Salam,
Terima kasih untuk kesediaanmu membaca suratku ini. Bagaimana kabarmu hari ini? Saya harap kamu baik-baik saja. Di sini akupun demikian, masih dalam keadaan baik-baik saja.
Beberapa waktu yang lalu, kamu bercerita tentang temanmu yang kau ajak untuk ikut di acaramu. Kau kelihatan senang dan bercerita tanpa beban. Dia membangunkanmu dari tidurmu dan berjalan bersamamu ke tempat itu, berdua. Kamu pun mengantarnya pulang ke tempat dia titipkan kendaraannya. Saya tahu kamu mengajaknya karena acara itu sedikit banyak berkaitan dengan bidang ilmu yang digelutinya, dan ingin membantu adik-adikmu juga.
Aku senang kamu bercerita tentangnya, tapi kenapa sepertinya di kepalaku terbersit pertanyaan yang susah sekali untuk dikeluarkan. Kenapa harus dia? Ku pikir masih banyak yang lain, tapi kenapa harus dia? Maaf, saya bodoh bertanya seperti itu. Tapi untung saja pertanyaan itu masih di kepala saya. Jika pertanyaan itu keluar dari mulut ini, sama saja saya tidak percaya pada diri saya sendiri bahwa saya menaruh percaya kepadamu itu sepenuh hati.
Kamu pun bertanya kepadaku apakah saya cemburu atau tidak? Tentu saja saya menjawab tidak. Saya tidak ingin merasa cemburu karena saya pun tidak ingin dicemburui. Setelah ku jawab pertanyaanmu dengan alasannya. kamu berkata bahwa kamu harusnya cemburu, karena cemburu itu tanda sayang. Tapi saya bilang kalau saya cemburu, berarti saya meragukan kamu dan tidak percaya sepenuhnya padamu.
Saya tidak cemburu dan tak akan pernah cemburu dengan perempuan lain, karena saya percaya pada diri saya sepercaya kamu mempercayai saya.
Tertanda,
Perempuan yang Mempercayaimu
Jumat, 20 Februari 2015
Kamis, 05 Februari 2015
(Bukan) Surat Biasa
Kepada wanita yang duduk di pojok ruangan.
Maafkan saya. Saat
itu hanya bisa melihatmu terdiam dan termenung sendiri. Maafkan saya kalau saya
memperhatikanmu terlalu lama. Saya tak tahu apa yang terjadi pada perempuan
itu, tapi tak ada keberanian sedikit pun untuk menanyakannya kepadamu. Saya tahu
kalau dirimu sedang bersedih, tapi entah apa yang membuatmu seperti itu sampai
kamu tak malu untuk mengeluarkan air matamu.
Banyak orang
yang melihatmu bersedih dan kamu menangis terisak karena sesuatu yang belum
saya tahu. Rasa ingin tahu saya semakin bertambah saat kamu tak mampu menahan
rasa sakit dalam wujud air mata itu. Saya memberanikan diri untuk
menghampirimu. Saya menanyakan keadaanmu. Kamu menjawab baik-baik saja. Saya tidak
puas dengan jawaban itu. Saya tahu, kamu tidak sedang baik-baik saja. Kamu sedang
merasakan sakit yang tidak bisa kamu kendalikan lagi. Apa yang membuatmu merasa
sesakit ini?
Beberapa saat di
sampingmu, terpikir di kepalaku, ketika orang menangis, pasti orang itu akan dehidrasi.
Lalu ku langakahkan kakiku menuju sebuah kantin untuk membeli air dan
memberimu. Sebotol air mineral dan dengan senang hati kamu menerimanya dan
mengucapkan terima kasih. Sebagai peempuan, saya bisa merasakan sakit seperti
itu tanpa tahu apa sebab dan alasannya. Kita sama-sama perempuan yang kata
orang awam sangat sensitif pada wilayah perasaan.
Setelah beberapa
lama, tangismu mulai mereda. Ku berikan sapu tangan pemberian ayahku untuk menghapus air mata yang sejak tadi membasahi
pipimu. Dengan usaha yang keras kamu mulai menghentikan isak tangismu. Kau mulai
minum dan mengucapkan kata terima kasih (lagi). Kamu mulai ingin terbuka dan
ingin bercerita padaku.
Oh yaa, kita tidak sempat berkenalan saat
itu. Perkenalkan, nama saya Ayus. Kita pernah belajar di kampus yang sama tapi dengan atap yang berbeda beberapa tahun lalu.
Ceritamu sangat
menyentuh wilayah sensitifku (hati), kau bercerita tentang seorang yang kamu
sayangi memperlakukanmu secara tidak adil. Tak perlulah saya ceritakan kembali
apa yang kau beritahukan kepadaku waktu itu, karena saya pikir kamu masih
ingat. Satu hal yang membuat belajar tentang hal yang sangat berarti. Kamu berusaha
sekuat tenaga mempertahankan apa yang kau yakinkan pada dirimu sejak lama. Komitmen
yang terjalin beberapa tahun berlalu, tetap kau pegang teguh walaupun di lain
sisi kamu merasa sakit. Sangat sakit diperlakukan tidak adil. Saya juga tidak
menyalahkan siapa pun. Semua orang pasti pernah salah. Saya tahu. Tapi saya
kagum padamu. Kamu tegar. Sangat tegar malah. Setelah kamu menceritakan semua
keluh kesahmu, tampak di wajahmu sedikit perubahan raut muka. Lebih bisa
tersenyum dari yang sebelumnya.
Saya senang kamu
mau mebagi sedikit kisahmu padaku. Terima kasih atas kepercayaan itu. Terima kasih
sudah ingin mendengarkan pendapatku. Terima kasih (juga) sudah tersenyum.
Apakah kita akan
berkenalan lebih lanjut? Berteman dan menjadi sahabat? Saya punya banyak teman
tanpa (ber)sahabat.
Dari,
Calon sahabat perempuanmu
Selasa, 03 Februari 2015
Tanpa Perkenalan
Perkenalkan, nama saya Ayus. Kita pernah berada di forum yang
sama. Saat kau baca surat ku ini, pikiranmu tentang saya kembali lagi. Mungkin
saja sekarang kamu sedang berusaha keras mengingatnya. Siapa saya, bagimana
saya, ataukah kapan kita saling mengenal.
Yah, kita tidak pernah saling menyapa apalagi kenalan. Kita hanya saling
mencuri pandang satu sama lain. Pandangan yang sesekali disertai dengan
senyuman tipis dari wajahmu. pandangan yang membuat saya sedikit malu-malu dan
memerahkan pipi saya. Sungguh tak enak rasanya di tengah banyaknya orang, pipi
seperti buah apel yang telah siap dipetik lalu dimakan.
Tidakkah kamu ingat, hari itu bertepatan dengan hari ini? 4
Februari tiga tahun lalu. Kita bertemu saat mengikuti sebuah kegiatan
jurnalistik tidak jauh dari kampus. Waktu itu, kamu memakai pakaian serba
hitam, dari baju, celana sampai sepatu warna hitam, seperti pelayat. Lucu saja
melihatmu dengan penampilan seperti itu. Karena Kamu datang terlambat, jadinya harus duduk di kursi
paling belakang. Mungkin kau tidak ingat, ada seorang perempuan yang duduk
tepat di samping kananmu. Perempuan itu memakai baju cokelat, rok hitam dan
jilbab hitam. Perempuan itu adalah saya. Perempuan yang telah kau curi
pandangannya. Perempuan yang sampai saat ini tak tahu siapa namamu dan
bagaimana kabarmu.
Hari itu kita tidak sempat berkenalan karena kau sibuk
berbicara dengan temanmu. Kamu tidak sempat
memperhatikan saya atau pun sekedar menyapa. Hanya wajahmu saja yang
memperlihatkan senyuman manis yang membuat saya sedikit tertarik. Apa mungkin
saya tidak menarik yah? Menarik atau tidaknya seseorang sebenarnya bukan
dilihat dari penampilan, sih. Tapi kan kalau dipikir-pikir, yang pertama
dilihat oleh orang lain kan, fisiknya. Yah, waktu itu saya masih lugu, tak seperti
sekarang yang super aktif.
Saya lupa menyanyakan kabarmu, Bagaimana kabarmu sekarang? Ku
dengar kamu sudah memiliki seorang perempuan yang special dan kamu akan segera
menikah? Selamat yah. Saya tahu itu dari hasil stalking di akun media socialmu. Saya lihat banyak fotomu dan
perempuan itu. Kalian sangat serasi, sama-sama manis. Semoga hubungan kalian
langgeng.
Saat ini, dari tempat saya menulis surat ini, saya ingin
berterima kasih padamu. Terima kasih pernah menjadi teman khayalan saya. Teman
yang hanya bisa saya ingat dengan senyuman manisnya tanpa perkenalan ataupun
sapaan. Terima kasih.
Saya teringat serabgkaian kata, “kita seperti hujan dan
teduh, ditakdirkan bertemu tapi tidak untuk bersama dan jalan beriringan”.
Semoga saja masa yang akan datang, kita bertemu lagi, saling menyapa dan
berkenalan.
Tertanda,
Teman
yang belum mengenalmu
Senin, 02 Februari 2015
Kesalahan Kecil
Teruntuk kesayanganku.
Kamu tahu bagaimana keadaanku hari ini?
Kamu tahu apa yang saya rasakan sekarang?
Hari ini, saya senang sekali.
Hari ini kamu membuat saya tidak bisa melupakan apa yang kita lakukan kemarin.
Kita pergi berdua di sebuah tempat wisata yang ada di kota kita.
Kau yang rela meluangkan waktu di sela-sela kesibukanmu, membuat saya sadar bahwa saya adalah seorang perempuan yang beruntung.
Karena bisa menjadi perempuan yang
bisa menjadi alasan untuk menyisihkan waktumu. Perempuan yang selalu ada di
sampingmu ketika kamu lelah setelah bekerja keras.
Saya tahu kalau kamu bekerja keras
bukan untuk dirimu atau keluargamu saja, tapi kerja kerasmu juga untuk kita.
Kita yang telah kita cita-citakan bersama jauh sebelum ini.
Sayang…
Kesalahan kecil yang bisa membuatmu
sedih.
Kesalahan yang tidak saya rencanakan
atau saya inginkan.
Saya lupa mengirimkanmu kabar lewat
sms atau telepon.
Saya sangat sibuk berbenah rumah
dari tadi pagi.
Untuk itu, saya menulis surat ini.
Saya ingin menebus kesalahan kecil
saya pagi tadi.
Sekali lagi, maaf.
Tertanda,
Perempuan kecilmu :)
Perempuan kecilmu :)
Cinta Pertama Anak Perempuanmu
Teruntuk Lelaki Cinta
Pertamaku,
Tepat pukul 11.08 WITA surat ini saya tulis dari
kota nan jauh dari tempat tinggalmu. Bagaimana kabarmu di sana? Bagaimana kabar
istri dan kedua anak perempuanmu? Saya berharap kamu dan mereka baik-baik saja.
Saya di sini hanya bisa berusaha mendoakanmu agar kamu sehat selalu. Apakah kamu
masih ingat kapan kita terakhir bertemu? Kalau tidak salah, sebulan yang lalu
kan? Kamu berkunjung ke rumahku dan membantuku berbenah rumah. Waktu itu, kamu tiba
di rumah sekitar pukul 11 malam. Wajahmu tampak lelah setelah perjalanan jauh.
Saya paling tahu kalau kamu tidak biasa dengan perjalanan sejauh ini. Tapi kamu
tidak menampakkan kelelahan itu. Tahukah kamu kalau saya kasihan melihatmu,
namun tak mampu untuk mengucapkan kalimat lain selain “cepat istirahat dan
tidur”? yah, kamu tidak mungkin tahu karena komunikasi kita tidak terlalu lancer
setelah saya merantau ke kota Daeng ini.
Pagi itu hujan sangat deras, kamu bangun lebih pagi
dari saya. Segera kamu berbenah rumah dan mengatasi bagian rumah yang bocor. Minuman
kesukaanmu untuk sarapan setiap pagi sudah saya siapkan, segelas susu dan
beberapa kue. Kamu hanya bertanya pada saya, kapan saya keluar rumah. Saya hanya
menjawab saya tidak keluar dan tidak akan keluar ke mana-mana untuk hari ini,
karena hari ini, agenda saya hanya membantu kamu berbenah rumah.
Tahukah kamu, kalau hari itu saya sangat senang? Yah,
saya sangat senang dengan kedatanganmu dan kesediaanmmu untuk membantu saya
berbenah rumah. Ingat kah kamu saat beberapa tahun lalu di kota asal kita? Waktu
itu saya masih anak putih abu-abu. Pagi itu, saya hanya bisa melihatmu berbenah
dan membersihkan pekarangan dari jendela kamarku. Saat itu, saya ingin
membantumu, tapi saya tahu kalau kamu pasti melarangku. Saya tahu kamu tidak
akan membiarkan saya untuk membantumu membersihkan pekarangan rumah. Saya tahu
kalau kamu akan menyuruh saya untuk tinggal di dalam rumah dan menyantap
sarapan yang sudah disiapkan oleh ibu saya. Saya tidak bisa membantah apa yang
kamu inginkan. Jadi saya hanya tinggal di rumah.
Masih ingat kan? kamu akan selalu menyempatkan waktu
buat mengantar saya ke sekolah kalau saya sudah ketinggalan pete-pete? Kamu sangat
baik seperti ayah yang sering ku panggil “bapak”. Kamu juga selalu menjemput
saya sepulang sekolah. Dan kamu tahu kalau saya selalu sabar menunggumu hingga
kamu datang. Pernah suatu hari kamu mungkin lupa menjemput saya. Selama dua jam
lebih saya menunggu di depan sekolah dan melihat jam tangan saya, berpikir dan
betanya-tanya, kapan kamu datang? Waktu itu saya tidak bisa menghubungimu, kan
kita tidak memiliki handphone. Saat kamu
datang, mata saya berkaca-kaca dan saya bahagia kamu akhirnya datang menjemput
saya. Masih banyak kebaikanmu yang tidak sempat saya tulis di surat ini. Maaf.
Kamu adalah lelaki pertama dalam hidupku, kamu
adalah pahlawan dalam hidupku dan cinta pertamaku. Terima kasih, Bapak. Terima kasih
telah menjaga keluargamu. Terima kasih atas jasa-jasamu selama ini. Semoga kamu
selalu sehat dan sabar menjaga ketiga perempuan penting dalam hidupmu.
Salam
peluk dan sayang untuk.mu, lelaki cinta pertamaku.
Tertanda,
Perempuan terakhir dalam hidupmu
Minggu, 01 Februari 2015
Februari Bercerita Tentang Akhir Januari
Perjalanan
kemarin sungguh melelahkan. Perjalanan yang memerlukan waktu kurang dari 2 jam
mengendarai motor bersama kawan karibku. Melewati jalan yang tidak mulus dan
berbelok-belok. Sepanjang jalan, saya hanya berpikir, kapan saya sampai? Kapan kita
bertemu? Saya sudah tak sabar. Jalanan aspal yang sedikit berlubang dan berair
membuat saya harus berkendara dengan hati-hati. Jalanan berbelok-belok tanpa
ada lampu jalan, hutan-hutan yang menyeramkan dan rumah penduduk yang bisa
dihitung dengan jari membuat saya sedikit takut. Setelah sampai di sana, saya
tidak menyangka kalau kami harus jalan sejauh kurang lebih 200 meter untuk
sampai di tempatmu berada karena jalanan berlumpur dan sangat terjal. Dengan penerangan
yang seadanya, kami berjalan dan berpegangan pada pagar-pagar pembatas agar
tidak terpeleset dan terjatuh. Melelahkan memang. Sangat melelahkan, namun
mengunjungimu bisa menghapus rasa lelahku, atau lebih tepatnya rasa lelah
merindukanmu.
Tahukah kamu saat kita bertemu, saya sangat
ingin memelukmu? Yah, memelukmu dengan erat. Tapi tenang, itu hanya di alam
pikiranku saja. Saya sadar kalau kita harus bersabar sampai saatnya Tuhan
menyatukan kita. Saat sampai ke tempatmu, yang saya lihat hanya kumpulan
orang-orang yang sedang menonton sebuah pertunjukan. Mata saya belum menangkap
wajahmu. Radar saya juga belum menangkap signal keberadaanmu. Kamu terlihat
setelah acara itu selesai. Jelas saja kamu tak terlihat, kamu ada di belakang
orang-orang itu, seperti bersembunyi dan menunggu Tuhan memberi kesempatan buat
kita untuk bertemu. Seorang teman memberi tahu padamu tentang kedatanganku. Ku dengar
kamu mencariku, dan selang beberapa menit, saya menghampirimu. Akhirnya kita
bertemu. Akhirnya rencana menghabiskan hari terakhir Januari bersama terealisasikan.
Senang
rasanya saya bisa mengunjungimu kemarin.
Walau tak lebih dari 8 jam kita bersama, tapi setidaknya rencana kita
bisa terwujud. Terima kasih, Tuhan. Di penghujung Januari ini memang
menyenangkan. Sangat menyenangkan.
Hari ini awal
februari. Bagaimana kabarmu hari ini? Bagaimana kegiatanmu di sana? Lancar,
kan? Apakah istirahatmu cukup? Maaf kalau saya terlalu banyak tanya dan saya
tidak bisa berlama-lama di sana untuk menemanimu. Saya sudah mengagendakan
beberapa kegiatan yang akan saya ikuti hari ini sebelumnya. Tanggung jawab
sebagai manusia yang peduli akan tugas yang telah diembankan dan ini tanggung
jawab sosial. Masihkah kamu semangat untuk menyemangatiku, lelaki sang pemilik
hatiku? Masihkah kamu mau menyemangati perempuan sederhanamu yang sedang tergeletak
sakit ini? Masihkah kamu mau menjaga perempuan sederhanamu yang lalai menjaga
kesehatannya? Semoga kamu sabar dan setia.
Tertanda,
Perempuan penampung
semangatmu
Langganan:
Komentar (Atom)
Ayusti Dirga. Diberdayakan oleh Blogger.




