Senin, 02 Februari 2015

Cinta Pertama Anak Perempuanmu



Teruntuk Lelaki Cinta Pertamaku,

Tepat pukul 11.08 WITA surat ini saya tulis dari kota nan jauh dari tempat tinggalmu. Bagaimana kabarmu di sana? Bagaimana kabar istri dan kedua anak perempuanmu? Saya berharap kamu dan mereka baik-baik saja. Saya di sini hanya bisa berusaha mendoakanmu agar kamu sehat selalu. Apakah kamu masih ingat kapan kita terakhir bertemu? Kalau tidak salah, sebulan yang lalu kan? Kamu berkunjung ke rumahku dan membantuku berbenah rumah. Waktu itu, kamu tiba di rumah sekitar pukul 11 malam. Wajahmu tampak lelah setelah perjalanan jauh. Saya paling tahu kalau kamu tidak biasa dengan perjalanan sejauh ini. Tapi kamu tidak menampakkan kelelahan itu. Tahukah kamu kalau saya kasihan melihatmu, namun tak mampu untuk mengucapkan kalimat lain selain “cepat istirahat dan tidur”? yah, kamu tidak mungkin tahu karena komunikasi kita tidak terlalu lancer setelah saya merantau ke kota Daeng ini.

Pagi itu hujan sangat deras, kamu bangun lebih pagi dari saya. Segera kamu berbenah rumah dan mengatasi bagian rumah yang bocor. Minuman kesukaanmu untuk sarapan setiap pagi sudah saya siapkan, segelas susu dan beberapa kue. Kamu hanya bertanya pada saya, kapan saya keluar rumah. Saya hanya menjawab saya tidak keluar dan tidak akan keluar ke mana-mana untuk hari ini, karena hari ini, agenda saya hanya membantu kamu berbenah rumah.

Tahukah kamu, kalau hari itu saya sangat senang? Yah, saya sangat senang dengan kedatanganmu dan kesediaanmmu untuk membantu saya berbenah rumah. Ingat kah kamu saat beberapa tahun lalu di kota asal kita? Waktu itu saya masih anak putih abu-abu. Pagi itu, saya hanya bisa melihatmu berbenah dan membersihkan pekarangan dari jendela kamarku. Saat itu, saya ingin membantumu, tapi saya tahu kalau kamu pasti melarangku. Saya tahu kamu tidak akan membiarkan saya untuk membantumu membersihkan pekarangan rumah. Saya tahu kalau kamu akan menyuruh saya untuk tinggal di dalam rumah dan menyantap sarapan yang sudah disiapkan oleh ibu saya. Saya tidak bisa membantah apa yang kamu inginkan. Jadi saya hanya tinggal di rumah.

Masih ingat kan? kamu akan selalu menyempatkan waktu buat mengantar saya ke sekolah kalau saya sudah ketinggalan pete-pete? Kamu sangat baik seperti ayah yang sering ku panggil “bapak”. Kamu juga selalu menjemput saya sepulang sekolah. Dan kamu tahu kalau saya selalu sabar menunggumu hingga kamu datang. Pernah suatu hari kamu mungkin lupa menjemput saya. Selama dua jam lebih saya menunggu di depan sekolah dan melihat jam tangan saya, berpikir dan betanya-tanya, kapan kamu datang? Waktu itu saya tidak bisa menghubungimu, kan kita tidak memiliki handphone. Saat kamu datang, mata saya berkaca-kaca dan saya bahagia kamu akhirnya datang menjemput saya. Masih banyak kebaikanmu yang tidak sempat saya tulis di surat ini. Maaf.

Kamu adalah lelaki pertama dalam hidupku, kamu adalah pahlawan dalam hidupku dan cinta pertamaku. Terima kasih, Bapak. Terima kasih telah menjaga keluargamu. Terima kasih atas jasa-jasamu selama ini. Semoga kamu selalu sehat dan sabar menjaga ketiga perempuan penting dalam hidupmu.

Salam peluk dan sayang untuk.mu, lelaki cinta pertamaku.

Tertanda,

Perempuan terakhir dalam hidupmu

3 comments:

Unknown mengatakan...

ciee.....

Bukan Blog Biasa mengatakan...

Tiap hari jadi keterusan baca suratnya nih :)

Unknown mengatakan...

terima kasih :)
kritik dan sarannya yah :)

Posting Komentar

Ayusti Dirga. Diberdayakan oleh Blogger.