Perjalanan
kemarin sungguh melelahkan. Perjalanan yang memerlukan waktu kurang dari 2 jam
mengendarai motor bersama kawan karibku. Melewati jalan yang tidak mulus dan
berbelok-belok. Sepanjang jalan, saya hanya berpikir, kapan saya sampai? Kapan kita
bertemu? Saya sudah tak sabar. Jalanan aspal yang sedikit berlubang dan berair
membuat saya harus berkendara dengan hati-hati. Jalanan berbelok-belok tanpa
ada lampu jalan, hutan-hutan yang menyeramkan dan rumah penduduk yang bisa
dihitung dengan jari membuat saya sedikit takut. Setelah sampai di sana, saya
tidak menyangka kalau kami harus jalan sejauh kurang lebih 200 meter untuk
sampai di tempatmu berada karena jalanan berlumpur dan sangat terjal. Dengan penerangan
yang seadanya, kami berjalan dan berpegangan pada pagar-pagar pembatas agar
tidak terpeleset dan terjatuh. Melelahkan memang. Sangat melelahkan, namun
mengunjungimu bisa menghapus rasa lelahku, atau lebih tepatnya rasa lelah
merindukanmu.
Tahukah kamu saat kita bertemu, saya sangat
ingin memelukmu? Yah, memelukmu dengan erat. Tapi tenang, itu hanya di alam
pikiranku saja. Saya sadar kalau kita harus bersabar sampai saatnya Tuhan
menyatukan kita. Saat sampai ke tempatmu, yang saya lihat hanya kumpulan
orang-orang yang sedang menonton sebuah pertunjukan. Mata saya belum menangkap
wajahmu. Radar saya juga belum menangkap signal keberadaanmu. Kamu terlihat
setelah acara itu selesai. Jelas saja kamu tak terlihat, kamu ada di belakang
orang-orang itu, seperti bersembunyi dan menunggu Tuhan memberi kesempatan buat
kita untuk bertemu. Seorang teman memberi tahu padamu tentang kedatanganku. Ku dengar
kamu mencariku, dan selang beberapa menit, saya menghampirimu. Akhirnya kita
bertemu. Akhirnya rencana menghabiskan hari terakhir Januari bersama terealisasikan.
Senang
rasanya saya bisa mengunjungimu kemarin.
Walau tak lebih dari 8 jam kita bersama, tapi setidaknya rencana kita
bisa terwujud. Terima kasih, Tuhan. Di penghujung Januari ini memang
menyenangkan. Sangat menyenangkan.
Hari ini awal
februari. Bagaimana kabarmu hari ini? Bagaimana kegiatanmu di sana? Lancar,
kan? Apakah istirahatmu cukup? Maaf kalau saya terlalu banyak tanya dan saya
tidak bisa berlama-lama di sana untuk menemanimu. Saya sudah mengagendakan
beberapa kegiatan yang akan saya ikuti hari ini sebelumnya. Tanggung jawab
sebagai manusia yang peduli akan tugas yang telah diembankan dan ini tanggung
jawab sosial. Masihkah kamu semangat untuk menyemangatiku, lelaki sang pemilik
hatiku? Masihkah kamu mau menyemangati perempuan sederhanamu yang sedang tergeletak
sakit ini? Masihkah kamu mau menjaga perempuan sederhanamu yang lalai menjaga
kesehatannya? Semoga kamu sabar dan setia.
Tertanda,
Perempuan penampung
semangatmu


1 comments:
terima kasih :)
Posting Komentar